Rezadnk's Blog

12 April 2010

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (ACFTA)

Filed under: Uncategorized — rezadoank @ 6:05 PM

Bab I

Pendahuluan

Pada perdagangan bebas akhir-akhir ini Indonesia akan mengalami keterpurukan diakibatkan diberlakukannya ACFTA yaitu perdangan bebas antara kawasan regional ASEAN dengan China. Dampak dari disepakatinya ACFTA ini membuat sector industry local menjadi kalah bersaing dengan produk dari China yang lebih murah dibandingkan produk buatan local. Hal ini diakibatkan dibebaskannya bea masuk import barang yang diberlakukan terhadap produk dari China.

Bab II

Pembahasan

PENTINGNYA KETAHANAN NASIONAL DALAM MENGHADAPI ACFTA

Sejak ditandatangani ACFTA awal Januari 2010 akhirnya terasa sekali betapa semakin sulit kemampuan pengusaha dalam negeri bersaing dengan para pengusaha dari China. Akhirnya, ketahuan juga bagaimana Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyesalkan ketidaksiapan pemerintah menghadapi perdagangan bebas, terutama perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). Ketua Umum HIPMI Erwin Aksa,  mengatakan isu paling besar adalah tidak adanya sosialisasi dan persiapan, sehingga saat pemberlakukan free trade, dunia usaha kaget karena tidak punya persiapan. Menurutnya, HIPMI  menyadari bahwa sekarang China memiliki banyak barang murah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri. Sebagian besar barang-barang China juga merupakan barang jadi yang bisa langsung dikonsumsi (consumer product). Saat ini, Indonesia banyak ekspor bahan baku, berbeda dengan China yang lebih banyak memiliki  barang jadi. Kenapa kita tidak ekspor barang jadi juga, karena pabrik mereka tentu akan membutuhkan bahan baku dari Indonesia.

HIPMI berharap Pemerintah dapat meningkatkan pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi barang jadi. HIPMI juga meminta perbankan memberikan dukungan kepada pengusaha.  Karena itulah, dibutuhkan  dukungan perbankan yang memiliki peranan penting, khususnya dukungan dalam bangun pabrik.

Akhir tahun 2006 pertemuan para petinggi perhimpunan bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan China diselenggarakan di kota Nanning, Propinsi Guan Xi, China. Salah satu agendanya adalah memantapkan visi bersama dalam rangka Pasar Bebas Kawasan ASEAN-CHINA (ASEAN-CHINA Free Trade Area/ACFTA). Delegasi Indonesia dalam pertemuan tahun itu dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan RI yang selama ini dikenal akrab dengan dunia bisnis China maupun Asia Timur.

Lantas, bagi pebisnis Indonesia, elit politik dan pengamat Indonesia tentu saja ada pertanyaan, yakni apa kelanjutannya dari pertemuan ACFTA itu? Gagasan pembentukan ACFTA untuk pertama kalinya disepakati dalam Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-7 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, pada November 2001. Ketika itu ASEAN menyetujui pembentukan ACFTA dalam waktu 10 tahun, yang dirumuskan dalam ASEAN-China Framework Agreement on Economic Cooperation yang disahkan pada KTT ASEAN berikutnya di Phnom Penh, Kamboja, pada November 2002.

Tahun 2000 para pimpinan China didukung berbagai ilmuwan dari berbagai pusat penelitian China memprakarsai diskusi yang lebih fokus, yakni mengusulkan dibentuknya (ASEAN-CHINA Free Trade Area/ACFTA). Perdana Menteri China,Zhu Rongji, yang menyampaikan usulan itu pada ASEAN Plus Three Summit di Singapura pada November 2000. Walaupun dalam hitungan waktu memasuki tahun ke enam pada saat ini agaknya ada serangkaian kekuatan tersebut mulai dapat membuat cemas dan takut menyaksikan bila menyaksikan bergeraknya keseimbangan kekuatan (balance of power) kearah Kerajaan Tengah (Middle Kingdom).

Bayangkan saja, saat gagasan ACFTA muncul yang disepakati bersama China dengan ASEAN untuk diawali implementasinya tahun 2010 saat akan terjadi integrasi perekonomian yang meliputi sebanyak 1,8 miliar konsumen (1,29 miliar dari China dan 550 juta dari ASEAN) dan belum lagi kalau disertakan Jepang (berpenduduk 127 juta) dan Korea Selatan (berpenduduk 48 juta).
ASEAN dan China menyetujui dibentuknya ACFTA dalam dua tahapan waktu, yakni 1) tahun 2010 dengan negara pendiri ASEAN, meliputi Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Filipina; 2) tahun 2012 ada lima negara lain di ASEAN meliputi Brunei Darusalam, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar.

Indonesia menganggap ACFTA sebagai bagian dari regionalisme China. Oleh karena luas wilayah dan kemampuannya, China juga bermaksud membentuk satu kawasan perdagangan bebas dengan Jepang dan Korea. Sejak awal 2004 Indonesia menyerahkan daftar berisikan 400 kategori produk yang terhitung peka dan berkepekaan tinggi (sensitive and highly sensitive goods) untuk dikecualikan dari skema liberalisasi ACFTA.
Dalam sidang AEM (ASEAN Economic Ministers Meeting) ke-36 di Jakarta pada September 2004 terjadi perundingan dengan China yang menghasilkan kesepakatan perdagangan dalam barang dan jasa, serta pokok-pokok pemecahan sejumlah masalah yang kemudian diformalkan ke pertemuan di Laos. Dalam rangka ACFTA kebanyakan barang yang diperdagangkan antara Indonesia dan China implementasi penurunan/penghapusan tarifnya sebanyak 5.250 kategori produk dilakukan mengikuti skema dan waktu.
Dalam hal inilah para pebisnis Indonesia hendaknya memahami dan mencermati bahwa diberlakukannya ACFTA, maka negeri ini akan menikmati berkurangnya hambatan non-tarif (non tariff barrier/NTB) atas berbagai produk ekspor ke China.

Dewasa ini masih terdapat sebanyak 13 (tiga belas) jenis komoditi yang terkenal NTB, antara lain minyak olahan, kayu, polyester, serat akrilik, karet alam, ban (karet), natrium sianida, gula olahan, pupuk kimia, tembakau dan rokok, serta kuota sekaligus tarif bea masuk ke China atas kakao senilai 10% , sedangkan dari Malaysia nol persen. Untuk kelapa sawit yang tidak jelas pengenaannya dan menyebabkan kalah bersaing dengan yang berasal dari negara lain. Dari kesepuluh produk tersebut, Indonesia masih memiliki pangsa pasar yang cukup besar di China. Sayangnya karena kelemahan dalam berdaya saing dengan sesama ASEAN, banyak dari komoditas tersebut mulai kehilangan pangsa pasarnya. Berbagai produk Indonesia yang melemah daya saingnya karena umumnya pebisnis di negeri ini masih saja memfokus pada pasar yang tidak mengalami pertumbuhan atau tidak menyadari bahwa pebisnis China mulai menggeliat memberdayakan potensi internal yang tadinya tidak digarap.

Dalam hubungan dengan Indonesia, pihak China sangat menyadari dan memahami tersedianya sumber daya alam sebagai bahan baku untuk industri di China.

Data ekspor non-migas Indonesia ke China tahun 2005 menunjukkan ekspor yang makin signifikan adalah Kelapa sawit, pulp, karet alam, balata, kopra, tembaga, dan bahan baku sumber daya alam lainnya.

Pebisnis Indonesia agaknya harus menyadari sekaligus memahami bahwa Malaysia, Singapura dan Filipina sebagai sesama anggota ASEAN terhitung pesaing komoditi ekspor ke China. Selain itu, pebisnis Indonesia hendaknya tidak menutup mata bahwa masih adanya sejumlah hambatan memasuki pasar China, layaknya hambatan NTB yang setiap waktu berubah. Dewasa ini NTB itu berupa kuota, sistem perizinan masuknya produk minyak olahan, kayu, karet alam dan sejumlah komoditas lainnya.

Satu hal yang patut dicermati kalangan elit dan pebisnis Indonesia adalah bahwa selama krisis keuangan Asia 1997-1998 justru cadangan devisa China sejak itu meningkat terus. Bahkan, Negeri Tirai Bambu itu menurut berbagai telaah tercatat memiliki cadangan devisa pada akhir 2009 mencapai sekira 2,2 triliun Amerika Serikat (AS). Meningkatnya cadangan devisa itu menunjukkan kompetensi dan kapasitas China, khususnya dalam hal ekspor.

Pelayanan birokrasi Indonesia yang “lebih bermutu, lebih cepat, dan lebih murah” (better, faster and cheaper) hendaknya bukan slogan politis. Demi efisiensi pelaku bisnis dari pusat sampai ke daerah-daerah yang potensial perlu mengisi ACFTA. Di pihak bisnis harus terus dikelola dengan produktivitas, termasuk permberdayaan manajemen menengahnya yang makin meningkat dan tidak membosankan.

Bab III

Penutup

Agar pertahanan Indonesia terhadap ACFTA semakin kuat diperlukan batasan-batasan terhadap produk asing yang masuk ke dalam negeri agar tidak merusak industri lokal yang sedang mengembangkan ushanya menjadi lebih baik dan memberikan pengembangan kepada industri dalam negeri ini seperti fasilitas yang memadai agar bangsa ini dapat lebih maju lagi.

Sumber : harian online kabar Indonesia ( http://www.kabarindonesia.com/ )

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: